Menggali lebih dalam kompetensi seseorang lewat dinamika motive-talent

Dalam proses seleksi dan pengembangan sumber daya manusia, pernahkah Anda mendapati :
1. Orang yang mahir dalam mengerjakan suatu hal tetapi ia tidak menikmatinya
2. Orang yang menikmati suatu pekerjaan tetapi ia tidak mahir

Asesmen Wave dari Saville Consulting mampu mengukur kedua hal tersebut untuk mendapatkan gambaran kompetensi seseorang mengenai dinamika Motive (apa yang mereka sukai/ nikmati) dan Talent (apa yang mereka mahir/ efektif). Dinamika Motive-Talent akan muncul apabila Talent lebih besar dari Motive seperti orang nomer 1 atau Motive lebih besar dari Talent seperti orang nomer 2.
Lalu bagaimanakah kita menindaklanjuti 2 orang tersebut?
Dengan informasi dinamika Motive-Talent, kita dapat mendalami lebih jauh lagi dengan menelaah:
Tujuan
Dalam seleksi, info ini dapat digunakan untuk melakukan probing dalam wawancara. Apabila Motive lebih besar dari Talent maka dapat digali hal apa yang membuatnya termotivasi. Apabila Talent lebih besar dari Motive maka dapat dicari tahu dalam kondisi apa orang tersebut tidak termotivasi.
Dalam pengembangan, info ini dapat digunakan untuk menentukan tindak lanjut area pengembangan seseorang. Apabila Motive lebih besar dari Talent maka hal inilah yang perlu dikembangkan. Apabila Talent lebih besar dari Motive maka dapat dicari tahu penyebab orang tersebut tidak termotivasi. Hal inilah yang dapat secara efektif memperbaiki performanya.

Kompetensi yang mengalami dinamika Motive-Talent
Melihat berapa banyak dinamika Motive-Talent pada kompetensi yang berpengaruh terhadap kompetensi yang dibutuhkan dalam bekerja

Skor Motive-Talent
Semakin besar gap antara Motive dan Talent maka menunjukkan semakin besar dampaknya bagi kinerja seseorang

Kecenderungan lebih ke Motive atau Talent

Motive-Talent (Motive)
Cenderung Ke Motive

Jika Motive lebih besar maka penting untuk mengeksplorasi kebutuhan atau potensi pengembangan orang tersebut.

Motive-Talent (Talent)
Cenderung Ke Talent

Jika Talent lebih besar maka perlu digali hal yang menyebabkan motivasi rendah dan dampaknya.

Penyebab
Menggali faktor pribadi dan faktor situasi yang menyebabkan dinamika Motive-Talent

Implikasi
Mencari tahu akibat dari dinamika Motive-Talent bagi orang tersebut dan orang lain yang terkait
Setelah mendapatkan gambaran dari 6 poin diatas maka hal tersebut akan mempermudah bagi kita menindaklanjuti kedua orang tersebut.
Sumber:
Saville, P. & Hopton, T. (2014). Psychometrics @ Work. Saville Consulting, Surrey.

Read More

Bagaimana melihat kedudukan seseorang dari skor Saville dibandingkan orang lainnya?

Oleh Jillian Widjaja

Biasanya tiap tes mempunyai skor yang berbeda satu sama lain. Dibawah ini merupakan kurva normal yang dibawahnya terdapat penggaris masing-masing standar yang sudah distandarisasi berdasarkan Z score. Dengan menggunakan penggaris ini, kita dapat mengkonversikan ukuran dapat diperoleh dimana kedudukan skor seseorang, apakah lebih rendah atau lebih tinggi dari orang lainnya.

kurva normal

Skor pada laporan Saville memakai ukuran Sten. Skor sten atau kepanjangannya Standard Ten memiliki rentang skor dari 1 sampai 10. Kedudukan Sten pada kurva normal dapat dilihat sebagai berikut :
Sedangkan kedudukan seseorang dalam suatu populasi dari skor Sten yang didapat:
1   = 1% lebih tinggi dari kelompok populasi
2   = 5% lebih tinggi dari kelompok populasi
3   = 10% lebih tinggi dari kelompok populasi
4   = 25% lebih tinggi dari kelompok populasi
5   = 40% lebih tinggi dari kelompok populasi
6   = 60% lebih tinggi dari kelompok populasi
7   = 75% lebih tinggi dari kelompok populasi
8   = 90% lebih tinggi dari kelompok populasi
9   = 95% lebih tinggi dari kelompok populasi
10 = 99% lebih tinggi dari kelompok populasi

Sumber:
Saville, P. & Hopton, T. (2014). Psychometrics @ Work. Saville Consulting, Surrey.

Read More

Mempercayai Orang Asing: Hasil Riset Perbandingan Eksekutif Interim dan Permanen

Judul asli: Trusting Strangers
Penulis asli: Chris Small
Diterjemahkan dan disarikan oleh Mirna Oktaviani

Saville Consulting dan Hemming Robeson telah menyelesaikan riset dua tahun mengenai penempatan interim dan permanen. Pertama kali dipublikasikan di theHRDIRECTOR, Desember 2013 dan direproduksi dengan izin oleh Chris Small, Commercial Director of Saville Consulting, yang merangkum beberapa hasil penemuan.

Memutuskan untuk merekrut eksekutif senior untuk periode sementara (interim) atau permanen merupakan dilema umum yang berulang kali dihadapi oleh para direksi dan direktur SDM di manapun.

strangersSaat ini semakin meningkat angka organisasi yang menggunakan rekrut interim untuk berbagai fungsi, termasuk merger dan akuisisi, implementasi proses dan sistem baru, atau, dalam beberapa kasus, manajemen krisis. Setelah riset selama dua tahun, Saville Consulting dan Hemming Robeson menyimpulkan bahwa rekrut interim bisa menjadi salah satu cara paling efektif untuk mencapai tujuan-tujuan dan proyek-proyek spesifik dimana gaya kepemimpinan senior yang kuat memang diperlukan. Hemming Robeson, yang fokus pada seleksi profesional interim level eksekutif, secara hati-hati memilih 450 eksekutif senior interim lalu sampel ini dibandingkan dengan kelompok 953 pemimpin bisnis internasional yang berada pada posisi permanen. Mayoritas dari kelompok interim (85%), dengan rata-rata usia 53, memiliki lebih dari 20 tahun pengalaman di bidang mereka.

Semua interim senior menyelesaikan sebuah strengths assessment, kuesioner tingkah laku mengidentifikasi kekuatan potensi individual secara mendalam dalam 36 tingkah laku inti yang dianggap penting dalam keberhasilan manajemen. Kuesioner  tersebut merupakan asesmen diri pribadi yang mengukur dalam skala rating tujuh poin, dengan mekanisme yang telah diatur agar meminimalkan distorsi skor dan mengeluarkan hasil akhir yang akurat. Studi validasi menunjukkan bahwa hasil tersebut sangat prediktif terhadap kinerja aktual di tempat kerja. Setelah tahap asesmen, dilakukan analisis yang menyeluruh, mencari penyimpangan atau kejanggalan di antara kedua kelompok (interim dan permanen). Pencarian ini membuahkan hasil dan beberapa perbedaan yang cukup menarik muncul.

‘Providing Leadership’, ‘Driving Success’ dan ‘Structuring Tasks’ adalah kompetensi tertinggi di kelompok interim, sementara ‘Building Relationships’, ‘Giving Support’ dan ‘Processing Details’ merupakan tingkah laku yang kurang penting secara signifikan pada kelompok ini. Hal ini menunjukkan adanya fokus yang jelas terhadap pencapaian, mengambil tindakan tegas dan menyelesaikan pekerjaan dibandingkan mengkhawatirkan mengenai membangun hubungan dengan orang lain, berinteraksi secara sosial dan mengadopsi cara-cara yang biasa dilakukan dalam bisnis. Mungkin hasil ini tidaklah mengejutkan, walaupun membangun hubungan dengan staf merupakan faktor kunci bagi interim, mereka sangat menyadari singkatnya waktu penugasan mereka dan mereka membangun hubungan sebagai alat untuk mencapai hasil kerja. Mereka telah ditunjuk untuk menyelesaikan proyek dan itulah fokus energi mereka. Juga tidak mengejutkan, bahwa kelompok ini juga jauh lebih nyaman menghadapi perubahan, mengelola ambiguitas dan menoleransi ketidakpastian di tempat kerja.

Walaupun kelompok pembandingnya, yaitu manajer permanen, secara rata-rata memiliki skor sedikit lebih rendah pada aspek ‘Providing Leadership’ dan ‘Adjusting to Change’, mereka menilai diri mereka lebih tinggi pada area ‘Following Procedures’ dan ‘Giving Support’, yang secara tipikal diasosiasikan dengan peran manajemen, dimana merupakan tugas dari pejabat senior untuk memastikan bahwa nilai-nilai bisnis ditegakkan, dan tim mendapatkan hal-hal yang diperlukan untuk berkinerja bagus. Jadi, di lingkungan bisnis modern, apakah manajer interim merupakan jawabannya? Apakah tim merespon lebih baik terhadap eksekutif senior yang bekerja dalam jangka pendek, yang mempertahankan mereka tetap termotivasi dan diberdayakan, atau mereka lebih memilih pendekatan yang tradisional dan jangka panjang dimana mereka dapat membentuk ikatan dengan rekan kerja dan manajemen?

Studi menunjukkan bahwa, pada tingkah laku spesifik yang terbukti mendorong kepemimpinan yang baik dan secara nyata mencapai hasil yang diharapkan, terdapat perbedaan positif yang jelas antara skor kelompok interim dengan permanen. Lebih spesifik lagi, kelompok interim merespon lebih tinggi pada kemampuan untuk: menunjukkan kepemimpinan melalui pemberian masukan, mengarahkan orang dan memberdayakan individu; mendorong keberhasilan melalui mengambil tindakan, mengejar tujuan-tujuan yang jelas, mengambil peluang-peluang, serta menyusun tugas, menghasilkan output dan mempertahankan standar.

Juga, mungkin salah satu perbedaan yang paling penting antara kedua kelompok adalah kemampuan kelompok interim untuk menangani perubahan dan ketidakpastian di tempat kerja; sesuai dengan kondisi dimana penempatan mereka bersifat jangka pendek dan ambiguitas yang mereka hadapi ketika bergabung dalam organisasi. Kepribadian yang kuat ini merupakan hal krusial dan mendukung mereka secara cepat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Kemampuan mereka, untuk memotivasi dan menginspirasi pendekatan yang fokus pada hasil kepada orang lain, menjamin bahwa mereka akan terus memberikan nilai tambah di tengah iklim ekonomi yang berubah-ubah.

Perusahaan Williams Lea berspesialisasi pada Sistem Informasi Korporasi dan baru-baru ini merekrut seorang Communications Director melalui Hemming Robeson. Lesley Lindberg, Chief Marketing Officer di Williams Lea, menjelaskan alasan di balik keputusan mereka dan manfaat yang mereka dapatkan. “Kami ingin menempatkan seseorang yang mampu membuat berbagai hal terlaksana dengan cepat dan mempersiapkan berbagai hal. Setelah periode enam bulan, kami tahu bahwa merek tersebut harus diluncurkan dan kami membutuhkan seseorang untuk mengelola evolusinya secara berkesinambungan. Interim yang kami rekrut jelas sekali berpengalaman dalam menilai situasi dan mencapai tujuan sesuai batas waktu yang disepakati. Situasi tersebut bagaikan lari cepat dan bukan maraton dan, menilik kebutuhan kami untuk meluncurkan merek baru dalam waktu singkat, maka itu adalah solusi sempurna. Saya yakin ada saat-saat dimana karyawan internal lebih reseptif terhadap masukan dari manajer interim dan lebih bersedia untuk diarahkan oleh mereka. Mereka mungkin menganggapnya ‘tidak memiliki agenda’ dan, oleh karena itu, lebih kredibel dalam mengajukan suatu ide atau sudut pandang mengenai tantangan-tantangan yang sedang dihadapi.” Kalau begitu, jika para manajer interim sangat kuat dalam hal memberdayakan, membawa dan mengadaptasi perubahan, maka dimanakah peran pemimpin permanen dalam konteks dunia bisnis kontemporer yang selalu berubah?

Riset menunjukkan bahwa, walaupun para interim jelas memiliki banyak keuntungan dalam mencapai hasil, tetap ada ruang untuk eksekutif permanen yang dapat membangun hubungan dalam rangka meningkatkan dan mentransfer pengetahuan kepada tim di bawahnya. Manajer permanen cenderung diberi kelonggaran dengan 100 hari untuk merumuskan dan memulai rencana atau proyek, sementara dalam skala waktu yang sama, seorang interim mungkin sudah setengah jalan menyelesaikan tugas mereka. Disinilah letak keterampilan sejati eksekutif interim; kemampuan untuk menyusun rencana kerja dalam seminggu atau lebih cepat agar dapat mencapai tujuan mereka dalam waktu singkat. Peran manajer permanen, yang tampaknya lebih nyaman menghabiskan waktu untuk memahami kesenjangan dan memberikan dukungan serta dorongan yang dibutuhkan, menjadi penting untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang dari kapabilitas seluruh organisasi.

Memang, tampaknya kontrak permanen akan tetap menjadi norma untuk posisi senior selama bertahun-tahun yang akan datang, karena semakin jelas bahwa baik eksekutif interim maupun permanen memiliki peran masing-masing dalam organisasi. Solusi interim memberikan suntikan instan keterampilan, kemampuan untuk mengelola situasi krisis dan akses ke kapabilitas seorang yang belum tentu tersedia di internal. Organisasi masih akan membutuhkan pemimpin permanen untuk memberikan stabilitas dan kontinuitas. Tidak semua orang cocok untuk menjadi manajer interim; posisi ini membutuhkan kepribadian yang sangat khusus agar dapat menghadapi kurangnya kemapanan pekerjaan serta selalu berubahnya situasi dan keterampilan profesional, sehingga mereka dapat mengatasi berbagai masalah dan tantangan klien yang membutuhkan mereka.

Untuk membaca artikel aslinya, Anda dapat melihatnya di:

https://www.savilleconsulting.com/news-and-articles/2013/12/12/interim-management-article-from-thehrdirector-magazine

Read More

10 Manfaat Menggunakan Psikometri

psychometric-testingJudul asli: 10 Benefits of Using Psychometrics
Penulis asli: Saville Consulting
Diterjemahkan dan disarikan oleh Mirna Oktaviani

Saville Consulting berbagi informasi bagaimana agar perusahaan mendapatkan 10 (sepuluh) manfaat menggunakan psikometri melalui asesmen yang disediakannya. Asesmen Saville mengukur kemampuan, talenta, dan motif dapat membantu organisasi mengidentifikasi, memilih, dan mengembangkan individu dan tim yang berkinerja bagus.

1.    Seleksi yang adil
Formulir lamaran kerja, referensi, dan wawancara mudah dipengaruhi oleh prekonsepsi atau bias seseorang. Asesmen yang valid dan reliabel untuk peran dalam pekerjaan memungkinkan sebagai metode perbandingan yang adil dalam menyeleksi kandidat berdasarkan kriteria yang untuk kinerja baik pada peran tertentu yang telah diidentifikasikan sebelumnya.

2.    Penghematan biaya rekrutmen
Biaya rekrutmen yang buruk diperkirakan sekitar 40% gaji tahunan individu tersebut. psikometri yang dapat mengidentifikasi para kandidat yang dapat menghasilkan performa yang baik di tempat kerja dapat secara drastic mengurangi kemungkinan kesalahan dalam menyeleksi.

3.    Mengukur aspek-aspek yang menggerakkan performa
Asesmen memungkinkan para kandidat diseleksi untuk peran yang berdasarkan potensi di masa depan dan kesesuaian dengan nilai-nilai dan budaya organisasi. Asesmen tingkah laku dapat mengukur aspek-aspek yang tidak ditangkap oleh metode-metode lain, misalnya kesesuaian antara motif dan talenta. Hal ini dapat meningkatkan kualitas karyawan yang direkrut dan mengidentifikasi area-area kunci untuk pengembangan mereka. Mengelola talenta rekrutan berdasarkan karakteristik tersebut dapat meningkatkan pemasukan sampai 30% dan peluang bagus 26%.

4.    Meningkatkan keterikatan karyawan dan kepuasan kerja
Laporan Environment Fit Saville memberikan gambaran pengaruh dari budaya organisasi terhadap kinerja kandidat. Studi klien telah menunjukkan bahwa peningkatan 10% dalam komitmen karyawan setara dengan peningkatan 6% dalam upaya karyawan yang setara dengan kenaikan 2% dalam kinerja. Peningkatan komitmen karyawan menghasilkan keterikatan karyawan (engagement) dan kepuasan kerja (job satisfaction) yang lebih tinggi.

5.    Proses perekrutan efisien dan fleksibel
Dalam rekrutmen dengan volume besar (massal), asesmen memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan perbandingan kandidat yang ingin disaring (dalam batas-batas tertentu). Nilai tes dapat diekstraksi dan disajikan dalam bentuk pembobotan untuk membuat analisis lebih mudah dan lebih cepat. Asesmen dapat diadministrasikan secara terpisah (berdiri sendiri) atau dengan mudah diintegrasikan dengan sistem pelacakan pelamar kerja untuk menyederhanakan administrasi tes.

6.    Mendukung branding organisasi dan penarikan kandidat pelamar kerja
Bespoke high fidelity assessments, such as Situational Judgment Tests, give realistic workplace scenarios with unique branding opportunities to attract candidates and encourage self-selection.
Dipesan lebih dahulu penilaian kesetiaan yang tinggi, seperti Tes Penghakiman Situasional, memberikan skenario kerja yang realistis dengan peluang merek yang unik untuk menarik calon dan mendorong seleksi mandiri.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai penggunaan Situational Judgment Test (SJTs) di Jaguar Land Rover, silakan klik di  https://www.savilleconsulting.com/news-and-articles/2014/01/10/a-cost-effective-way-of-handling-volume-applicants-graduate-recruitment

7.    Fungsionalitas global
Psikometri tersedia dalam multi bahasa sehingga kita dapat mengadakan proyek global terstandar menggunakan asesmen-asesmen yang secara spesifik didesain untuk rekrutmen massal.

8.    Audit Talenta
Kuesioner tingkah laku memungkinkan agar kekuatan-kekuatan kandidat diverifikasi, kelemahan-kelemahannya diklarifikasi, poin-poin pengembangan ditandai, dan isu-isu spesifik yang perlu digali lebih lanjut. Kedalaman informasi ini dapat memberikan standar bagi kandidat dan/atau karyawan sehingga talenta dapat diidentifikasi dan dikembangkan lebih cepat.

9.    Aman and terjaga
Asesmen kemampuan yang menampilkan konten variabel memungkinkan kandidat untuk melihat berbeda tetapi sebanding konten item dari bank pertanyaan. Asesmen tingkah laku yang menggunakan mekanisme distorsi canggih membantu mengontrol individu yang menilai dirinya sangat kritis atau justru berespon terlalu toleran.

10.    Memanfaatkan kekuatan internet
Asesmen kemampuan online dapat menyediakan informasi mendetail mengenai pola respon kandidat dan mengurangi waktu pengadministrasian. Hal tersebut juga memungkinkan informasi yang lebih dalam dapat digali.

Read More

Wawancara Winning Edge Magazine Dengan Profesor Peter Saville

peter_savilleJudul asli: In the Press: Winning Edge
Penulis asli: Shaz Quereshi
Diterjemahkan dan disarikan oleh Mirna Oktaviani

Kolumnis Winning Edge sekaligus ahli pemasaran Shaz Quereshi, melanjutkan seri wawancaranya dengan para pemimpin yang sukses dalam penjualan dan bisnis.

Seberapapun besarnya organisasi kita, kita semua menginginkan orang-orang terbaiklah yang bekerja bersama kita, terutama dalam penjualan. Rekan makan siang saya hari ini adalah Profesor Peter Saville, salah satu ahli terkemuka dalam bidang seleksi, asesmen dan pengembangan talenta di tempat kerja.

Saville dikenal luas sebagai maha guru asesmen dan disebut sebagai seorang jenius. The Financial Times menganggapnya sebagai pemberontak ruang direksi ketika ia meninggalkan pemimpin pasar asesmen SHL, perusahaan yang ia dirikan dengan hanya 100 poundsterling pada tahun 1977 di depan kamar tidurnya di kediamannya dengan ukuran semi tiga kamar tidur. Sebagai pemegang saham utama, ia melejitkan SHL menjadi 180 juta poundsterling di London Stock Exchange hanya 20 tahun kemudian. Setelah itu, ia meninggalkan SHL untuk mendirikan Saville Consulting, yang saat ini beroperasi pada industri SDM di 85 negara. Saville adalah salah satu orang yang paling dicari diantara orang yang pernah saya temui. Inilah yang membuat kami memerlukan waktu hampir satu tahun untuk menyelenggarakan wawancara ini.

Kami berada di The Grill at The Dorchester yang mewah di daerah Park Lane yang ramai di kota London. Makan siang dengan Shaz saat ini adalah hubungan tripartit, karena kami bergabung dengan James Partridge, area director of sales The Dorchester dan dua sister properties-nya di Inggris, yaitu Coworth Park dan 45 Park Lane. Ia memperkaya percakapan kami dengan komentar cerdas dari perspektif manajemen senior. (Lihat profil Partridge pada profil anggota ISMM kami halaman 48).

Kami semua memilih untuk makan siang tiga-babak dengan anggur yang dipilih oleh sommelier. Partridge menyarankan kami mulai dengan Fiz, sebuah Blanc de Blancs tahun 2008 dari Gusbourne di Kent. Minumannya sangat nikmat. Saya tidak tahu bahwa produsen Inggris sekarang dapat menyaingi beberapa merk sampanye besar.

Saya bertanya kepada Saville, apakah dirinya selalu akademis. “Saya bersekolah di sekolah menengah yang modern karena saya disleksia dan gagal ujian saya 11 + tapi saya lulus ujian 13+ dan pindah ke sekolah tata bahasa. Apakah Anda tahu bahwa 40% dari wirausahawan merupakan disleksia, Shaz, bahkan Richard Branson? Saya pikir kemampuan melihat pola-pola yang membantu seseorang memahami bisnis.”

Aku ingin tahu apa yang membuatnya memiliki gelar lebih panjang daripada namanya sendiri. “Saya belajar Psikologi Terapan di Universitas Leicester karena mencakup berbagai mata pelajaran, sehingga tidak harus mempelajarinya secara terpisah baik melalui jalur keilmuan atau seni. Itulah awalnya saya mengembangkan minat dalam bidang psikometri, karena membutuhkan pemahaman Matematika dan Bahasa Inggris.”

Beralih ke masalah kuliner, untuk memulai, Saville dan saya telah memilih bebek dan foie gras terrine dengan Medlars yang diawetkan (bebek dimasak dengan tekanan ringan dengan foie gras mousse yang lezat di atasnya). Partridge memilih Jerusalem artichoke sup dengan kemiri dan lobak. Ia jelas menikmatinya seperti kami menikmati foie gras.

Saville menjelaskan lebih jauh latar belakangnya dan bagaimana hal itu mengarahkan pada berdirinya SHL. “Saya bekerja di Foundation for National Education Research dan di sana saya menemukan bahwa saya bisa menulis tes dan bahwa saya senang menginovasi produk,” katanya. “Keberhasilan SHL didasarkan pada mendesain ulang beberapa tes untuk membuatnya spesifik pada pekerjaan tertentu, dengan laporan yang menarik sehingga orang bisa dengan mudah memahami. Kami mulai menjual tes dan tetap digunakan oleh BP dan Littlewoods. Hal ini membantu kami membangun bisnis dan SHL berkembang dari memiliki 12 staf menjadi 1.500 staf tanpa benar-benar merencanakan seperti itu.”

Ia melanjutkan, “Kami selenjutnya mengetahui bahwa direksi HR yang menjadi target pasar kami adalah pelanggan setia, meskipun mereka adalah orang yang mengajukannya ke eksekutif. Dan mereka juga senang memberikan referensi, suatu hal yang sangat berarti bagi kami karena penjualan selanjutnya sudah di depan mata. Begitu orang melihat apa yang mereka suka, anggaran jarang menghentikan mereka untuk membeli tes psikometri dan direksi HR cenderung diperhitungkan oleh CEO.”

Saat ini, Saville menjalankan perusahaan konsultan dengan namanya sendiri, di mana psikometri telah bergerak lebih jauh lagi. “Sebagai contoh, kami bekerja sama dengan produsen mobil Jaguar untuk merekrut lulusan baru, dan tes yang kami kembangkan juga digunakan untuk branding perusahaan, karena mereka menyukai inovasi yang kami perkenalkan,” katanya. “Teknologi pengetesan yang kami gunakan telah meningkat: hari ini kami dapat mengukur 108 faktor kepribadian dalam 40 menit sedangkan ketika kami memulainya hanya bisa mengukur 32 faktor dalam satu jam. Hal tersebut meningkatkan kedetailan hasil yang merupakan hal yang diperlukan oleh pengusaha karena membantu mereka membuat keputusan perekrutan yang lebih baik dan pada akhirnya menghasilkan banyak uang.”

Saya bertanya pada Partridge apakah The Dorchester juga memanfaatkan psikometri. “Ya, kita menggunakannya,” jawabnya. “Itu bagian dari proses rekrutmen kami. Kami memiliki program pengenalan karyawan yang baik dan di minggu pertama kami memastikan para rekrutan menghargai pengalaman klien kami, seperti makan siang di The Grill at The Dorchester. Penting agar karyawan tahu persis apa yang mereka perlu sediakan untuk menyediakan klien dan, seperti yang disampaikan profesor Saville, profil kepribadian membantu pengusaha mengidentifikasi orang yang tepat sejak dini.”

Untuk hidangan utama, Saville dan saya memilih daging sapi Angus panggang dengan segala hiasan dari troli makanan. Partridge memiliki ikan stone bass dengan krim bayam dan celeriac. Sommelier telah membawakan anggur merah Italia dari Sienna, Tolani ‘Al Passo’ tahun 2009. Saville dan saya mencicipi daging sapinya dan kami belum pernah merasakan yang lebih enak. Anggur melengkapi makanan dengan sempurna, menggabungkannya dan membuat pengalaman tersebut melekat. Saya sekarang paham mengapa hotel di Park Lane begitu dicari ketika saya bermain papan Monopoli ketika kecil.

Saya bertanya lebih jauh untuk mengetahui pandangan Saville tentang apakah tenaga penjualan dilahirkan atau dibentuk, dan ia memberi saya jawaban yang hanya dipahami kalangan ahli tertentu. “Dalam hampir semua tingkah laku, sudah terbukti adanya pengaruh genetik tertentu. Pernahkah Anda mendengar Epigenetika?”

Partridge dan saya melihat gugup satu sama lain, tapi untungnya Saville menjelaskan, “Ini adalah studi tentang perubahan yang diwariskan dalam aktivitas gen tapi tidak disebabkan oleh perubahan dalam urutan DNA. Ekspresi gen dapat dikontrol melalui aksi protein represor; dengan kata lain keadaan alami dapat mengaktifkan dan menonaktifkan gen dalam DNA. Inilah mengapa kembar identik semakin terlihat berbeda saat mereka tumbuh dewasa. Kita sekarang memahami bahwa pengalaman seseorang mempengaruhi gen mana yang lebih banyak muncul dan faktor lingkungan, seperti stres, bahkan dapat menyebabkan penyakit tertentu, misal arthritis. Jadi untuk menjawab pertanyaan Anda, tenaga penjualan terutama produk dari pengalaman mereka dengan sebagian pengaruh genetik. Argumen dari “Nature versus Nurture” sudah mati, Shaz! Interaksinyalah yang mengontrol perkembangan kita. ”

Kami semua memilih deconstructed apple crumble dengan krim untuk hidangan penutup, yang tiba dengan Pisano Fabula tahun 2006 dari Uruguay, anggur lezat manis yang melengkapi dengan luar biasa. Makan siang ditutup sempurna dengan espresso dengan petit fours yang baru dibuat. The Dorchester benar-benar unggul.

Waktu berlalu begitu cepat sehingga saya mulai memahami wawasan Saville yang menarik, tapi saya memutuskan untuk mempelajari karyanya secara lebih mendalam. Di luar prestasi akademis dan kewirausahaan, Saville juga seorang pria yang berorientasi keluarga, yang mencintai olahraga dan masih bermain tenis dan golf. Ayahnya mengabdi di Angkatan Darat sehingga ia memiliki minat dalam hal militer dan sejarah. Karena dilahirkan di Park Royal ia adalah penggemar QPR, pecinta berat musik soul dan jazz modern meskipun ia mengatakan bahwa ia satu sekolah dengan legenda rock Jimmy Page dari Led Zeppelin.

Tiba waktunya untuk meminta sepatah kata kebijaksanaan saat kami menutup percakapan. “Siapapun bisa memotong biaya untuk meningkatkan keuntungan, Shaz, tetapi kunci nyata bisnis adalah menumbuhkan jajaran paling atas.” Dan dengan itu ia meninggalkan kami, tidak diragukan lagi untuk memesona klien berikutnya. Saville terus menghidupkan mimpinya, meskipun ia telah mencapai begitu banyak, seperti yang Jimmy Page katakan, dengan Whole Lotta Love!
Untuk membaca tulisan aslinya dalam bahasa Inggris, Anda dapat mengunduhnya di sini.

Sumber asli: https://www.savilleconsulting.com/news-and-articles/2014/02/21/in-the-press-winning-edge

Read More